0



Print
65
9,05 pt
9,05 pt
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}
La taqul ful qabla an yashbaha fil makyul. Artinya: jangan pernah berhenti berusaha sebelum semuanya berakhir.
Al’ajalah minasy syaithan. Artinya: tergesa-tergesa atau terburu-buru
itu pekerjaan setan.
Fil ittihad quwwah. Artinya: persatuan puncak kekuatan.
Alghariq yatamassaku bi hiba lil hawa’. Artinya: orang yang tenggelam hanya bisa berpegang dengan udara.
Almu’amalah bit mitsli (kama tarani ya jamil araka). Artinya: bergaul itu harus bisa mengimbangi.
Man ya’isy thawil yara katsir. Artinya: semakin tua, semakin berpengalaman.

ATain bil ’ain. Artinya: kebaikan harus dibalas kebaikan.
Alwaqi/ah khayr minal ’ilaj. Artinya: mencegah lebih baik daripada mengobati.
Man jadd wajada. Artinya: siapa yang berusaha pasti akan berhasil.
Man ghaba ‘ anil ’ain sallahul qalb. Artinya: jauh dimata, dekat di hati.
Tha’irukum ma’akum. Artinya: keberuntungan sedang tidak bersamamu.
Haitsuma tastaqim yuqaddirillahu ’alayka najahan. Artinya: bila serius dan tekun pasti sukses.
Adhdharurah tubihul mahzhur. Artinya: kondisi darurat membolehkan yang dilarang.

Fakkir qabla an tatakalla. Artinya: pikir dahulu sebelum berkata.
Qablar rima’ tumala’ul kana’in. Artinya: sedia payung sebelum hujan.
La taj’al yadaka maghlulatan ila ’uniqika wala tabsuthha kullal basth. Artinya: jangan pelit dan jangan boros.
Ittaqillaha haytsuma kunta. Artinya: bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu~berada.
La yus’alu ’amma yafalu wa hum yus’alun. Artinya: Dia (Allah) tidak ditanyai tentang apa yang dilakukanNya. Justru manusia yang akan ditanyai.
Ashshadiq waqtadh diq. Artinya: di waktu susahlah teman sejati teruji.


Dikirim pada 31 Januari 2010 di PERTAMAX GAN


Normal
0
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

PUSAT BUMI

Prof Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan, la mengatakan. Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya, ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia. Untuk tujuan ini. dia menarik garis-garis pada peta. Sesudah itu. dia mengamatinya dengan saksama posisi ketujuh benua terfiadaD Makkah dan jarak masing-masing. Dia memulai mengambarkan garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

Setelah dua tahun dari penelitiannya yang sulit dan berat itu. Hussain Kamel sangat terbantu dengan program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda serta banyak hal lainnya. Dia kagum dengan apa yang ditemukannya, la pun mengatakan. Makkah adalah pusat dari bumi.

Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya mengenai Sejarah Kota Mekkah memaparkan. ada empat pendapat mengapa Makkah dinamakan Ummul Qura.

Pertama, bumi dibentangkan dari bawahnya. Dengan demikian, dia menjadi pusat bumi dan merupakan pusat dunia. Artinya, tanah yang berada di muka bumi ini dibagi di sekitar Makkah dengan cara yang sangat bertaut dan Makkah menjadi pusat dari tanah daratan. Juga. menjadi arah yang benar untuk tempat menghadap ketika shalat di kota mana pun seseorang berada, la adalah busur terpendek yang menghubungkan antara kota itu dan Makkah. Dalam penelitian ilmiah, secara falaki. ditemukan bahwa Ka’bah adalah pusat bumi dan dia dibangun di jantung Makkah.

Pendapat kedua. Makkah merupakan kota tertua dan terlama. Ketiga. Makkah merupakan kiblat semua manusia yang menghadap ke arah Makkah. Keempat. Makkah merupakan kota yang sangat agung kedudukannya dibandingkan kota-kota lain di dunia. â–  sya

sumber: koran republika sekarang.


Dikirim pada 31 Januari 2010 di PERTAMAX GAN


OEM
12.00
Normal
0
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

KISAH SEORANG TUKANG KAYU

perjalanan waktu, seorang tukang kayu yang trampil menjadi tua dan bersiap-siap untuk bersitirahat berhenti dari pekerjaannya. Dia memberitahukan kepada majikannya mengenai rencananya untuk pensiun meninggalkan pekerjaannya dan hidup santai bersama keluarganya. Dia tidak akan lagi menerima bayaran, tetapi dia membutuhkan istirahat.
Majikannya sedih melihat tukangnya yang terbaik akan pergi

meninggalkannya, dan meminta agar si tukang kayu membangun satu rumah lagi yang terakhir sebagai permintaan pribadi. Si tukang kayu setuju dengan permintaan majikannya, akan tetapi dia memastikan bahwa ini akan menjadi proyek terakhirnya.

Karena dalam keadaan yang sangat menginginkan pensiun, si tukang kayu tidak terlalu memperhatikan pembangunan rumah tersebut. Perhatian dan hatinya tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia menggunakan tenaga kerja yang buruk dan bahan bangunan yang rendah mutunya. Hal itu sungguh sesatu yang sangat disayangkan untuk mengakhiri karirnya sebagai tukang kayu.

Ketika pekerjaan tersebut selesai, si tukang kayu memanggil majikannya dan menunjukkan rumah itu kepadanya. Sang majikan menyerahkan kepadanya surat-surat dan kunci pintu depan kepada si tukang kayu dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu.”
Si tukang kayu sangat terkejut! Sungguh sayang, seandainya dia tahu bahwa rumah yang tengah dibangunnya waktu itu adalah rumahnya sendiri dia pasti akan membuatnya lebih baik dari seluruh rumah yang pernah dibangunnya!

Teman-teman, keadaan kita pun tidak berbeda dengan si tukang kayu. Allah telah memberikan kita kehidupan di muka bumi ini dan memberikan kita kesempatan untuk membangun sebuah rumah kelak di Surga, dengan mentaati segala perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk memilih, sebaik apa kita menginginkan rumah kita di akhirat kelak, tempat tinggal kita yang abadi? Rumah di Surga ataukah rumah di Neraka? Amalan kita di dunia saat inilah yang menentukannya...
Sumber: The Carpenter, Islamcan.Com, dengan beberapa perubahan

Dikirim pada 31 Januari 2010 di PERTAMAX GAN



Print
65
9,05 pt
9,05 pt
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}
Hikmah Oleh Hllman HaKlem MEI
Mencermati Larangan Riba
Allah SWT mewajibkan atau melarang segala sesuatu kepada umat manu­sia melalui proses atau tahapan-tahapan. Itu bertujuan agar perintah terse­but dapat dipahami secara baik dan dilak­sanakan dengan penuh kesadaran. Pada akhirnya, suatu perintah atau larangan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga kebutuhan.
Contoh larangan agama yang turun secara bertahap adalah praktik memakan riba. Allah tidak melarang praktik riba dalam sekali pe­rintah, melainkan melalui empat tahapan.
Pada tahap pertama, Allah memban­dingkan riba dengan zakat. Difirmankan oleh Allah dalam Alquran bahwa harta dalam riba, meskipun seolah-olah bertam­bah di mata manusia, ia tidak bertambah di sisi-Nya. Sedangkan, zakat, meskipun
seolah-olah berkurang di hadapan manu­sia, sesungguhnya ia bertambah di sisi-Nya. (QS Arruum [30]: 39).
Tahap kedua, Allah menggambarkan peri­laku orang-orang Yahudi yang suka mema­kan riba dan mengambil harta orang lain dengan cara-cara yang batil (tidak halal). Sehingga, sebagai balasannya, Allah menim­pakan azab dan siksa yang sangat pedih kepada mereka (QS Annisa [4]: 161).
Tahap ketiga, Allah mengharamkan umat Islam memakan harta riba yang jumlahnya berlipat ganda. Dalam perspektif hukum Islam, pengharaman semacam ini disebut haram al juz’i, yaitu haram untuk sebagian saja, terutama bagian yang paling merusak (QS Ali Imran [3]: 130).
Tahap terakhir, Allah secara tegas mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli. Firman Allah tentang pengharaman
tersebut terdapat dalam surah Albaqarah [2] ayat 275-276.
Implikasi logis dari pengharaman ini ada­lah bahwa kaum beriman diperintahkan untuk meninggalkan segala bentuk riba mes­kipun kecil persentasenya. Allah dan rasul- Nya bahkan mengajak untuk berperang mela­wan siapa saja yang masih menggunakan instrumen riba dalam kegiatan ekonominya.
Firman-Nya, "Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat, bagimu pokok harta­mu; kamu tidak menganiaya, dan tidak pula dianiaya." (QS Albaqarah [2]: 278).
Dengan diturunkannya ayat ini, status haramnya riba bersifat final dan kulli atau menyeluruh, baik itu dalam jumlah kecil maupun besar. â– 


Dikirim pada 30 Januari 2010 di PERTAMAX GAN



Print
65
9,05 pt
9,05 pt
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}
Bagaimana Anda Mengukur Kebahagiaan?
(Sumber yang di pakai M. Berry Santoso: BUKU WISATA HATI)
Bagaimana bila ukuran kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu berbagi kebahagiaan?
Alkisah, Buck, siswa kelas dua SMA di California, senang mengganggu orang lain. Ada saja yang dia lakukan, dari permen karet yang ditaruh di bangku kelas sampai papan tulis yang ia pindahkan sehingga gurunya kebingungan mencari papan tulis! Dan masih banyak lagi.
Kelakuan Buck juga terkadang menjurus pada tindakan kriminal. Pernah ia kedapatan membocorkan rem mobil kawannya hingga celaka. Padahal, kawannya itu tidak mempunyai kesalahan pada Buck. Walhasil, Buck diciduk aparat keamanan. Tapi setelah bebas, ia tidak ada kapok- kapoknya. Kelakuan nakal Buck baru berhenti setelah ada siswi rekan kelasnya yang menembak mulutnya. Sekarang Buck tidak bisa tertawa menyeringai lagi sebab sudah mati!
Kebahagiaan di mata Buck adalah ketika ia melihat orang lain tidak bahagia! Dia senang melihat orang marah ketika ia ganggu. Tandanya ia berhasil, la baru tidak bahagia kalau orang yang dia ganggu justru tersenyum kepadanya, la baru tidak senang ketika orang yang dia jahili tetap baik kepa­danya.
Sekarang bagaimana dengan Anda? Apakah Anda baha­gia melihat orang lain tidak bahagia? Apakah Anda bahagia bila Anda tahu bahwa kebahagiaan Anda itu menari-nari di atas penderitaan orang lain? Apakah Anda masih tetap senang bila sementara itu Anda tahu bahwa ada yang menangis disebabkan oleh cara Anda meraih kesenangan? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.
Syukur-syukur kalau Anda bisa tidak bahagia kalau ada orang di sekeliling Anda juga tidak bahagia. Lebih bersyukur lagi, bila Anda mampu membuat orang di sekeliling Anda bahagia.
Pernah ditulis kisah Effendi di salah satu buku Wisata Hati. Effendi, seorang eksekutif muda di kawasan Sudirman yang sudah memiliki segalanya, karier yang bagus, rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, dan anak yang lucu. Namun, ia masih merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Kehampaan sering terjadi seperti sebuah kekosongan batin.
Dikisahkan suatu hari ketika ia sedang melakukan lari pagi, ia bertemu seorang ibu yang sedang menangis.
“Secara "fitrah"-Nya, Dia selalu berkenan memberkahi kehidupan kita.”
Biasanya ia tidak mau peduli. Tapi kali itu ada kekuatan lain yang memaksanya menyapa sang ibu.
"Kenapa Ibu menangis?" tanyanya.
Rupanya, si ibu tersebut baru saja dipecat dari tempat kerjanya. Padahal, di hadapannya terbentang beragam kesusahan—anaknya yang sakit, suaminya yang juga sakit, hingga ketiadaan makanan dan uang.
Effendi tergerak membantu. Diantarnya ibu tersebut pulang, diberinya uang secukupnya. Sementara itu, anak dan suaminya dibawa ke dokter terdekat.
Hari itu, Allah Sang Pemilik kebahagiaan rupanya senang melihat apa yang dilakukan Effendi. Hari itu, Effendi merasa­kan satu kebahagiaan yang segera melengkapi kebahagia­an yang ia rasa kurang. Ternyata, selama ini kekurangannya itu adalah ia jarang membantu orang. Jarang mau berbagi kebahagiaan.
Saudara, Allah Pemilik kebahagiaan tentu senang kalau melihat kita bisa bahagia. Karena "kebahagiaan-Nya" adalah ketika melihat kita bahagia. Dan lagi kehadiran-Nya adalah agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Tapi, Dia juga ti­dak akan senang kalau kemudian kita menikmati kebaha­giaan dalam kesendirian alias tidak mau berbagi. Apalagi kalau kebahagiaan itu kita dapatkan dengan merugikan orang lain.
Dan ketahuilah, Allah teramat kuasa untuk membuat kita tidak bahagia, meskipun ketika kita seharusnya menjadi
orang yang berbahagia menurut kebanyakan orang. Artinya, Dia hilangkan rasa kebahagiaan di hati kita, di kehidupan kita.
Terus, yang patut diketahui, secara "fitrah"-Nya, Dia selalu berkenan memberkahi kehidupan kita. Agar apa? Agar kita juga berkenan menjadi berkah untuk sesama. Dia ingin kita menjadi senang dengan hanya menghadirkan kesenangan-kesenangan, agar kita juga bisa menyenangkan orang lain. Dia ingin kita berhasil, kaya, dan makmur, agar kita bisa meneteskan aliran rezeki-Nya untuk sesama. Tapi Dia akan mencabut berkah-Nya, manakala tujuan pembe­rian berkah dari-Nya tidak tercapai. Dia akan cabut anugerah kekayaan dan kemakmuran, manakala tujuan Dia memberi­kan kekayaan dan kemakmuran pada kita tidak kita laksana­kan.
Jangan sampai kebahagiaan kita tukar dengan penderitaan dan kesedihan.

MUNAJAT
Gawat betul ya Rabb, bila hamba tidak mampu meraba pende­ritaan orang yang kemudian membuat hamba tidak mampu berbagi. Suatu saat, ketika hamba berposisi sebagai orang yang membutuhkan, tiada yang peduli, bahkan mungkin Eng­kau juga tidak peduli sebab hamba sendiri tidak mau peduli.
Ya Rabb, ukuran kebahagiaan bila semata kebahagiaan tanpa cerminan di depan dan di belakangnya, maka patutlah hamba pertanyakan ulang. Bagaimanakah jika ternyata ada orangyang menangis lantaran kebahagiaan itu?Bagaimana­kah kalau ada orangyang justru hamba buat tidak Bahagia?
Wahai Zat yang memiliki bimbingan, bimbinglah hamba menemukan arti dari kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ham­ba bisa membahagiakan orang.


Dikirim pada 30 Januari 2010 di PERTAMAX GAN



Print
65
9,05 pt
9,05 pt
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Ketika Hati Menjadi Kosong


(Sumber M. Berry Santoso: BUKU wisata hati)....Pernahkah Anda merasakan ada yang hilang, sementara Anda tidak tahu apa jawabannya? Bila ya, lakukanlah kebaikan. Niscaya Anda akan temukan apa yang hilang
tersebut.
Sukses di usia muda. Itulah impian Andi. Hal ini menjadi tar­get hidup Andi. la begitu terobsesi dengan impiannya, se­hingga ia benar-benar meluapkan seluruh energinya untuk menemukan satu kata, kesuksesan!
Andi dikaruniai keadaan fisik dan nonfisik yang mendu­kung. Dalam beberapa tahun, ia menemukan dirinya dalam kesuksesan yang di atas rata-rata. Kendaraan roda empat berbanderol 300-an juta, rumah mewah plus kebun indah, bisa liburan kapan dia mau, bisa liburan ke mana dia mau. Pokoknya sukses.
Tapi yang terjadi justru ia kesepian. Di puncak kemapan­annya ia merasa kosong, la malah tidak tahu apalagi tujuan hidupnya, la merasa belum lengkap menjadi manusia.
“Siapa yang tidak memiliki Allah dalam kehidupannya, ia akan merasa kesepian.”

Andi adalah sosok yang bekerja cerdas, bukan bekerja keras. Menurutnya, definisi bekerja keras akan menghilang­kan kesenangan hidup, la bekerja cerdas. Dan karenanya pula, menurutnya, ia bisa mengatur waktu untuk keluarga­nya.
Saat itu, saat kekosongan melanda hati dan menyelimuti kehidupannya, sebenarnya ia berhasil menegakkan kehor­matan keluarganya. Setidaknya istri dan anak-anaknya. Tapi mengapa ia masih merasakan kekosongan?
Persis seperti Effendi Khoir (pernah ditulis kisahnya di Wisata Hati), suatu hari ia menemukan jawabannya, la keluar dari rumahnya, mencari yang bisa ditolong dan mencari mereka yang membutuhkan pertolongan.
Dari mana ia mendapatkan ide ini? Entahlah. Menurut pengakuannya, hal ini timbul saja dengan sendirinya. Dan ajaib! Ketika ia baru mulai berniat (belum melakukan), hawa sejuk sudah mengalir dalam tubuhnya. Kesejukan itu juga berembus demikian segarnya di hati dan pikirannya. Me­mantapkan langkahnya untuk menolong sesama.
Yang pertama ditujunya adalah Anwari, satpam di ling­kungan perumahannya, la pernah mendengar anak Anwari ini terancam akan dikeluarkan dari sekolahnya, karena menunggak SPP tujuh bulan. Yang kedua, adalah saudara istrinya, yang dulu sering datang meminta bantuan tapi ia tolak terus. Yang ketiga, ia mulai mau berkenalan dengan sajadahnya kembali.
Satu demi satu kebaikan ia lakukan. Seiring dengan itu, kekosongan batinnya mulai terisi.
Andi akhirnya berhasil menemukan jawabannya. Bahwa selama ini ia hanya memenuhi hasrat jasmaninya saja tanpa upaya pemenuhan hasrat ruhaninya. Dan ini yang membuat seolah Allah lari dari kehidupannya.
Sebab Allah berarti kebahagiaan. Sedangkan kebahagia­an yang ada pada materi di luar Allah, sifatnya semu.
Bolehlah kita meniru apa yang dilakukan Andi untuk mene­mukan kelengkapan bagi kebahagiaannya. Yaitu dengan melakukan kebaikan. Kejarlah apa-apa yang bisa memberi­kan kita kebahagiaan. Setelah itu, berbagi rasa. Berbagi rasa inilah kekayaan kebahagiaan yang sebenarnya.
{Kemampuan melakukan kebaikan akan menentukan kualitas kebahagiaan kita sendiri.}

munajat
Susahkah melakukan kebaikan, ya Rabb? Mestinya mudah. Tapi kenapa hamba masih merasakan kesulitan ’tuk berbuat baik? Adakah jawabannya karena hamba masih merasa bah­wa kebaikan itu untuk orang lain? Padahal untuk diri hamba sendiri akibat baiknya? Adakah jawabannya karena hamba masih merasa bahwa melakukan kebaikan itu mneguntung- kanorang lain? Padahal untuk diri hamba sendiri keuntungan­nya?
Oh, kiranya Zat Yang Memberikan Pemahaman dapat memberikan keyakinan pada hamba, bahwa segala kebaikan yang hamba lakukan adalah kembali pada diri hamba sendiri. Bukan untuk keuntungan orang lain, dan bukan pula sebuah kerugian.



Dikirim pada 30 Januari 2010 di PERTAMAX GAN
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah Muhammad Berry Santoso ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Archive
Categories
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 485.326 kali


connect with ABATASA